DITOLONG DAN MENOLONG


Banyak orang yang berteman atau mengasosiasikan diri mereka dengan orang orang yang tidak baik.
Yang rela nempel dengan mereka yang merugikan, bahkan menjatuhkan.
Alasannya banyak. Ada yang bilang ga tega, ada yang bilang “KASIHAN”, ada yang bilang “KALAU BUKAN SAYA YANG BANTUIN, SIAPA LAGI YANG AKAN BANTUIN?” atau “SAYA KAN SETIA!”

Banyak manusia-manusia ‘HEBAT’ yang siap membantu orang lain yang kesulitan dengan menemani, bahkan jika itu berarti mengorbankan diri mereka.
Tapi apa sikap ini selalu baik? Apakah ini bisa dibilang ‘PENGORBANAN YANG ETIS’ atau SIKAP HEROIK?
Menurut aku ga selalu.
Karena inilah faktanya tidak ada seorang pun yang  bisa sembuh jika tidak ada tekad dari dirinya sendiri. Tidak ada manusia yang bisa membangkitkan jiwa orang lain, jika orang tersebut tidak berusaha sendiri. Dan kenyataannya ga semua orang yang jatuh ingin bangun, dan ga semua korban mau berhenti jadi korban.
Kenapa?
Karena jatuh dan tetap berada dibawah itu lebih mudah dari menerima keadaan, bangkit, dan mencoba kembali.
Lebih enak jatoh, terus gulung-gulung rebahan ditanah, daripada bangun dan bersihin diri.
Turun kebawah selalu lebih mudah daripada menanjak ke atas.
Bangkit dari masalah dan keterpurukan MEMERLUKAN EFFORT DAN TANGGUNG JAWAB untuk menjadi lebih baik. Dan tidak semua orang mau menanggung tanggung jawab itu. Lebih mudah selalu menyalahkan keadaan atau sesama.

Kita juju raja ya.
Mungkin beberapa orang berpura-pura ingin menjadi lebih baik. Mereka bahkan membohongi diri mereka sendiri. Tetapi kenyataannya, jika dilihat lebih dalam, mereka hanya mau mengeksploitasi bantuan orang-orang lain. Mereka senang selalu diperhatiin tanpa harus membalas kebaikan itu. Dan setiap kali gagal untuk bangkit, tinggal menyalahkan mereka yang mencoba untuk membantu. Enak kan? Ga ada tanggung jawab.
Beberapa orang juga sengaja ingin berpegang pada kesengsaraannya karena ini adalah semacam bukti bahwa dunia tidak adil. Mereka tidak mau mengaku bahwa kesalahan dan pilihan mereka lah yang membuat mereka jatuh. Mereka menganggap kegagalan adalah hasil dari ketidakadilan, bukan karena kemalasan sendiri. Bahkan bangga, menjadikan masalah hidup sarana untuk mengkritik dunia dan sistem. Atau mungkin orang tersebut sebenarnya tidak ingin dibantu untuk berdiri, melainkan ingin menarik orang-orang lain untuk jatuh bersama dia. Semacam balas dendam kepada orang-orang yang berhasil maju dalam hidup, karena ia iri dan tidak bisa menerima kesalahannya sendiri.
Tetapi kebanyakan, mereka memang tidak mau menjadi lebih baik karena ya memang itu adalah jalan TERMUDAH. Bersedih-sedih dan bersantai-santai saja.
Untuk jangka pendek enak, ga butuh effort, dan santai. Tapi pada jangka panjang, dijamin rasanya seperti neraka.
Tidak semua orang yang jatuh ingin bangkit. Tidak semua orang yang meminta bantuan siap untuk dibantu.

Inilah kenapa sebelum kita memutuskan untuk “MENGORBANKAN DIRI” dan MEMBANTU teman/pacar/kerabat kita, kita harus tahu dulu kenapa mereka terpuruk.
Terlebih lagi apakah mereka siap untuk menjadi orang-orang berguna dengan tanggung jawab yang besar? Apa mereka siap untuk tidak jadi korban lagi? Untuk tidak dingertiin terus lagi?
Karena jika jawabannya TIDAK, kamu mau jungkir balik 500 kali pun mereka tidak akan menjadi lebih baik. Kamu mau nangis-nangis mohon ke mereka untuk mencoba, mereka ga akan maju. Sedih kan effort dan niat baik jadi sia-sia.

Nah sekarang beralih ke PARA PENYELAMAT.
Selain bertanya kepada mereka yang kita mau selamatkan, kita semua pun harus bertanya kepada diri kenapa kita berteman/pacaran/ mengasosiasikan diri dengan mereka?
Apa benar kita mau membantu?
Apa benar niat itu tulus?
Mungkin ada dari kita yang hanya mencoba membuat diri merasa lebih baik dengan berteman dengan mereka yang lebih kacau. Supaya ego kita semakin besar, dan kita bisa bilang ke diri “AKU BERUNTUNG YA, HIDUPKU GA SEKACAU MEREKA” atau “AKU ORANG YANG BAIK YA, JALAN HIDUP KU LURUS DIBANDING DIA”
Apalagi mencoba menjadi penyelamat mereka, melihat mereka bergantung pada kita, wah memuaskan banget. Merasa dibutuhkan. Ego semakin dielus-elus.
Atau mungkin kamu pun merasa nyaman mereka tidak mau bangkit, karena dengan begitu, kamu tidak perlu bertanggung jawab atas hidupmu juga.
Kamu dan temanmu tidak pernah menegur satu sama lain yang males-malesan, enjoy life aja. Gausah terlalu serius selow. HEHE tapi giliran nilai/karir/nama baik jeblok or jelek dan hubungan berantakan saling menyalahkan sesama dan dunia. Teriak “IYA GUE BODOH EMANG GAPERNAH BISA NGELAKUIN APAPUN YANG BENER. DUNIA GA ADIL!”
Atau mungkin kita setia nempel sama orang-orang yang ga baik karena kita terlalu lemah untuk move on dan terlalu labil untuk mengambil keputusan. Tapi kita gamau ngakuin itu ke diri. Oleh karena itu, kita bohongin diri bilang “AKU INI MENGORBANKAN DIRI DEMI DIA” atau “AKU INI SETIA.”
Kamu pun menghabiskan waktu mencoba menolong orang yang belum siap ditolong, sambil mencoba meyakinkan diri bahwa kamu itu orang yang baik. Padahal kenyataannya, bukannya kamu yang menarik dia keatas, tetapi dia lah yang menyeret kamu ke bawah.

Aku percaya bahwa manusia itu kompleks dan niat selalu tercampur aduk dengan berbagai macam motivasi dan tujuan. Oleh karena itu kita harus cermat dalam menelaah sesama dan diri kita sendiri.
Aku tau ini kedengerannya sadis dan keras, tapi aku mau berbagi karena sudah pernah mengalami.
Aku pernah jadi mereka yang minta bantuan tapi tidak mau bangkit, Karena suka diperhatikan.
Melihat ke masa itu, aku merasa kasihan dengan orang-orang terdekat yang sampai stress mencoba membantu aku, padahal diem-diem aku emang ga niat untuk jadi lebih baik. Aku enjoy diperhatiin dan hanya mau nyalahin keadaan.
Aku sadar sekarang, gaada SATU HAL PUN yang bisa dilakuin mereka untuk sembuhin aku. Kesembuhan dan kebangkitan itu tergantung aku sendiri, bukan siapa-siapa.

Aku pun pernah rela nolongin apa pun sampe bener-bener berkorban, dan akibatnya aku yang susah, aku yang stress. HEHE mungkin aku ngerasa mampu untuk menolong, mungkin aku ingin dilihat baik oleh orang-orang.
Tapi lama kelamaan aku pun sadar bahwa aku gabisa ngelakuin apa-apa kalau dianya gamau usaha sendiri. Usaha aku hanya merusak diri jadi stress, dan ngebuat aku ngerasa bersalah. Ga nyembuhin siapa-siapa. Aku berharap ada yang kasih tau aku itu dulu.

Aku pun mau kita sadar bahwa kita adalah manusia-manusia dengan kehendak bebas, yang harus bertanggung jawab atas tindakan dan prilaku sendiri.
Kita adalah manusia dengan manusia luar biasa, yang selalu bisa bangkit dari apa pun. Walaupun tidak selalu mudah.
Manusia itu kuat.
Tolong jangan sia-siakan hidup dengan bersantai dalam kejatuhan, atau mencoba menolong mereka yang memang tidak mau ditolong.

Carilah sahabat, teman, kolega, pasangan yang baik dan mau membantu mu maju. Mereka adalah orang-orang yang senang kalau kamu kasih kabar baik, bukannya malah cemburu. Mereka adalah orang-orang yang menghibur kalau kamu punya kabar buruk, dan mendorong kamu untuk bangkit lagi.
Mereka yang tidak akan mentoleransi sinisme, pesimisme, dan kemalasan mu. Ga mudah loh dikelilingi orang-orang seperti itu. Karena mereka akan membuat kamu mau maju dan berhasil dan ga berlama-lama dalam keterpurukan. Dan itu perlu kerja keras. Tapi ini lah yang seharusnya kita cari.
Mereka yang membuat kamu ingin menjadi lebih baik, bukan sekedar nyaman dan bahagia.
 ðŸ’“💓💓💓




Komentar